Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi Pelayanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi Pelayanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 November 2008

Persekutuan Yang Sejati

Oleh: Wiempy Wijaya

Di dlm kehidupan yg kita jalani ini, tdk dapat dipungkiri bahwa kita harus hidup bersama dgn org lain. Kita tdk bisa hanya mengandalkan diri sendiri dlm menjalani kehidupan ini, tapi kita tetap membutuhkan org lain untuk berbagi kebahagiaan, saling membantu jika terdapat kesulitan hidup, sharing ttg permasalahan hidup, dll. Alkitab menyebut pengalaman untuk berbagi dgn sesama sebagai persekutuan. Kebangkitan Yesus melahirkan suatu persekutuan yg di dalamnya Ia tetap hadir melalui Roh-Nya. Persekutuan tdk hanya berarti hadir dlm kebaktian di gereja saja. Persekutuan berarti kita semua sbg org Kristen bersama-sama mengambil inisiatif untuk hidup bersama. Di dlm persekutuan terdapat kasih yg tulus serta tdk mementingkan diri sendiri, sharing permasalahan hidup dgn jujur, saling menguatkan jika ada masalah hidup, bersedia mengorbankan waktu dan tenaga untuk menolong sesama.

Di dlm persekutuan, kita akan berusaha mengatakan hal yg jujur saja yg telah dialami dlm kehidupan yg kita jalani ini. Di dlm persekutuan yg sejati, sebisa mungkin kita bicara dari hati ke hati dgn teman persekutuan untuk mengeluarkan isi hati yg selama ini terpendam. Saling berbagi masalah yg telah kita alami, saling berdiskusi untuk mencari solusi yg terbaik bagi masalah tsb, dan akhirnya kita mendapatkan berbagai macam solusi yg mungkin bisa membantu kita dlm memecahkan masalah yg kita hadapi. Karena di dlm persekutuan kita merasa nyaman dan tentram dlm berbagi permasalahan hidup, membuat diri kita dpt mengeluarkan isi hati ttg permasalahan hidup. Kita merasa yakin di dlm persekutuan dgn teman seiman, dlm kondisi saling mendoakan dan saling menguatkan teman seiman yg mempunyai masalah, permasalahan hidup yg kita hadapi dapat dicarikan solusinya dgn sharing permasalahan yg kita hadapi dgn teman seiman. Dibutuhkan kejujuran dan integritas yg tinggi dlm persekutuan yg sejati. Kita harus melepas rasa takut untuk mengungkapkan permasalahan yg menimpa hidup kita, saling percaya terhadap teman seiman.

Dlm persekutuan yg sejati ada saatnya kita memberi solusi bagi teman seiman yg sedang mengalami permasalahan, ada saatnya juga kita menerima solusi atas permasalahan yg sedang kita hadapi. Persekutuan yg sejati membutuhkan komitmen yg luar biasa dari para anggotanya. Kita semua harus mau komitmen dgn apa yg telah dilakukan selama ini. Juga diperlukan rasa tanggung jawab yg tinggi dari para anggota persekutuan untuk saling berbagi dlm suka dan duka dlm menghadapi permasalahan yg ada. Kita semua harus konsisten dlm iman, ketika kita menghadapi masalah dan ketika kita berusaha menguatkan rekan seiman yg sedang menghadapi masalah.

Dan juga ingatlah, Alkitab dlm Kolose 3:15 (CEF) berkata demikian: "Kamu masing-masing adalah bagian dari tubuh Kristus, dan kamu dipilih untuk hidup bersama di dlm damai sejahtera"

Hal ini dipertegas dlm Mazmur 133 ayat 1 yg berbunyi: "Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara2 diam bersama dgn rukun!"

Di dlm persekutuan sejati, kita semua akan merasakan sedih atas penderitaan teman seiman kita, kita semua akan merasakan gembira atas keberhasilan teman seiman kita dlm karier. Kita dapat merasakan bagaimana rasanya mengalami penderitaan yg dialami teman seiman. Semua itu akan membuka mata hati, bahwa sangat wajar setiap manusia pasti mempunyai masalahnya tersendiri. Kita dpt mengerti dan memahami mengapa Tuhan memberi percobaan dan masalah dlm hidup kita ini. Semua hal itu tdk terlepas dari mempelajari dan mengambil hikmah dari permasalahan2 yg sudah di-sharing dan dicarikan solusinya dlm persekutuan.

Di dlm persekutuan yg sejati, dibutuhkan rasa kebersamaan dan kekompakan dlm memecahkan dan mencari solusi permasalahan yg ada. Kita harus mau mendengar secara sungguh2 permasalahan hidup yg menimpa teman seiman kita. Kalau bisa kita ikut serta memberikan solusi atas permasalahan tsb. Ingatlah apa yg dikatakan oleh Paulus dlm 1 Korintus 15:58 yg berbunyi demikian: "Karena itu, saudara-saudaraku yg kekasih, berdirilah teguh, jgn goyah, dan giatlah selalu dlm pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dlm persekutuan dgn Tuhan jerih payahmu tdk sia-sia"

Akhir kata, persekutuan yg sejati mendasarkan segala sesuatu di dalamnya dgn kasih karunia, dimana kita semua mau menolong teman seiman tanpa mengungkit-ungkit kejelekan sifat dan perbuatan yg dilakukan oleh teman seiman, sehingga muncul permasalahan yg mendera teman seiman tsb.
http://artikel.sabda.org/pelayanan_gereja

Pendeta Borju dan Pendeta Burjo

Penulis : Xavier Quentin Pranata/Purnawan Kristanto

'Jangan menikah dengan pendeta,' ujar seorang ayah kepada anak gadisnya, 'masa depanmu akan suram.' Ucapan yang dulu catat: dulu sering kita dengar, belakangan ini makin jarang kita dengar. Mengapa? Menjadi seorang pendeta pada zaman dulu memang serba susah, apalagi kalau sedang perintisan. Mereka sering berpuasa, bukan karena sengaja, tetapi terpaksa. Uang kolekte yang tidak sampai sepuluh ribu rupiah setiap kali kebaktian BAHANA pernah melayani di sebuah gereja di pegunungan yang kolektenya Rp 6.500,- setiap kali kebaktian dan persembahan bulanan yang tidak selalu berupa uang, membuat pendeta harus super irit. Seorang pendeta yang hendak naik mimbar seringkali tidak sempat sarapan, bukan karena tidak ada waktu, tetapi tidak ada makanan. Ada juga yang memakai strategi makan dua kali sehari. Agar siangnya tidak lapar, dia baru makan sekitar jam 11 siang. Itu pun hanya burjo alias bubur kacang ijo yang harganya paling murah di warung mi instan. Sebaliknya, dewasa ini, semakin banyak saja pendeta yang hidupnya makmur, sehingga tidak lagi makan burjo, tetapi malah bergaya borju (bourgeois, Perancis). Sebenarnya, manusia memang memiliki kecenderungan seperti itu. Abraham Maslow sejak lama mengatakan bahwa semakin tinggi penghasilan seseorang, semakin tinggi juga jenjang kebutuhannya. Jika kita baru pada taraf cari makan, maka untuk sampai ke kebutuhan aktualisasi diri masih jauh di awan-awan.

Karena BAHANA bergaul dengan hamba Tuhan dari kalangan mana pun, maka bertaburanlah contoh-contoh dari kedua jenis pendeta di atas. Kita mulai saja dari yang dianggap borju.

Yang Dianggap Borju

Suatu siang di resto steak ternama di Jakarta. BAHANA ditraktir makan siang oleh seorang penginjil yang sudah malang melintang di dunia pelayanan. Meskipun tidak ada yang nambah, karena steak yang kami pesan daging impor, maka bill yang harus dibayar penginjil itu mencapai ratusan ribu rupiah. Saat mengobrol, BAHANA tahu bahwa kebiasaan mentraktir sesama rekan pelayanan itu sudah menjadi hal yang biasa baginya. 'Berkat yang aku terima dari Tuhan harus aku bagikan kepada orang lain,' ujarnya.

Hal senada diucapkan juga oleh Pdm. Hanny Layantara, MA. Suami Ev. Agnes Maria ini mempunyai kebiasaan yang baik. 'Kami menganggarkan sampai 30% untuk memberkati sesama hamba Tuhan,' ujarnya tanpa nada sombong.

BAHANA yang mengenal dekat pasangan ini menyaksikan secara langsung bagaimana cara mereka mengatur keuangan. Meskipun tidak bermaksud mengintip tabungan mereka, BAHANA tahu mereka sangat care terhadap sesama tubuh Kristus. Beberapa hamba Tuhan yang BAHANA kenal, mengatakan mereka memperoleh berkat dari pasangan yang harmonis dan serasi ini. 'Studiku di STII juga disponsori oleh mereka,' ujar seorang pendeta kepada BAHANA.

Lalu, bagaimana dengan gaya hidup mereka? Orang luar memang menyaksikan pendeta terkenal identik dengan pola hidup mewah. Setiap kali mereka diundang pelayanan, mereka naik pesawat (bahkan ada yang executive/first class), menginap (baca: diinapkan) di hotel berbintang, dan makan (baca: diajak makan) di restoran kelas atas atau di hotel-hotel berbintang. Pakaian mereka pun mulai hem, dasi, jas dan sepatu selalu yang branded atau jahitan boutique dan taylor papan atas.

Bagaimana kalau di kotanya sendiri? Sama saja. Sebagai wartawan dan rohaniwan, BAHANA sering diundang untuk peliputan atau pelayanan Firman mulai dari kota metropolitan Jakarta sampai pelosok tanah air. Hamba Tuhan kelas atas senantiasa necis dalam penampilan. Rumah mereka pun di atas rata-rata rumah kebanyakan. Mobilnya juga relatif muda. Namun, jangan langsung mencap mereka glamour. Mereka hanya menyesuaikan diri dengan jemaat yang mereka layani. Contohnya: pendeta yang melayani di seputar segi tiga emas di Jakarta tentu berpenampilan necis karena jemaat yang mereka layani pun rata-rata berpenampilan demikian. Sebaliknya hamba Tuhan yang melayani di pedesaan akan tampak mencolok kalau mereka mengenakan jas mahal dan sepatu mengkilap.

Meskipun demikian, tidaklah bijak menilai orang hanya dari penampilannya saja. Dari pengamatan BAHANA di lapangan banyak di antara mereka yang sangat care dan peduli terhadap jemaat maupun sesama hamba Tuhan. Keluarga Hanny Layantara, misalnya. Bersama Agnes mereka menyisihkan sebagian berkat yang mereka terima untuk menolong hamba Tuhan lain. Gembala GBI Happy Family Center ini tidak saja berbagi materi, tetapi juga hati. 'Kami senang sekali mengajak hamba Tuhan yang ke Surabaya untuk makan bersama,' ujarnya, 'dengan demikian kami bisa saling belajar.'

Hanny dan Agnes banyak membantu keluarga-keluarga Kristen untuk memaksimalkan potensi mereka dan terutama keharmonisan mereka. Itulah sebabnya gereja mereka memiliki motto: 'Changing the World through Family.' Semuanya itu tertuang dalam visi gerejanya, 'Gereja yang sangat berpengaruh bagi masyarakat dalam pengajaran, penyembahan, dan misi.'

Pdt. Ir. Timotius Arifin adalah contoh lainnya. Gembala GBI Lembah Pujian, Denpasar, ini malah membatasi dirinya sendiri untuk memakai berkat yang Tuhan berikan. Bukan membatasi berkat Tuhan, tetapi membatasi haknya dalam memakainya. 'Saya digaji kok,' ujarnya. Saat membangun gerejanya yang bisa menampung ribuan orang sekaligus, dia menyisihkan 10% dana pembangunan untuk membangun gereja lain di luar denominasinya. 'Kalau saya memakai semua hak saya, saya bisa plempeken (Jawa: kelebihan),' ujarnya kepada BAHANA.

Meskipun memiliki jas-jas buatan luar negeri yang mahal, di dalam kesehariannya, dia tampak bersahaja. Sikap, ucapan dan perilakunya pun tidak sombong dan menyombongkan diri. 'Aku ingin satu hal dalam hidupku,' ujar suami Pdm. Fifi Sarah Yasaputra ini, 'yaitu Christ likeness (seperti Kristus, red.).'

Yang Burjo

Taraf dan gaya hidup yang berbeda dialami dan dijalani oleh Pdt. Danny Susanto. Ketika pertama kali memasuki Gunungkidul, tahun 1964, wilayah itu masih sangat gersang dan terkenal dengan wabah penyakit busung lapar. Penduduknya masih makan thiwul (makanan dari tepung ketela pohon) karena begitu miskinnya. Selain itu, pada musim kemarau juga pasti mengalami kekurangan air bersih secara serius. Keadaan ini tidak menyurutkan tekad Danny muda untuk melaksanakan misi dari Majelis Pusat Dewan Pantekosta Indonesia, yaitu merintis jemaat Pantekosta di Gunungkidul.

Benih yang ditanamnya mulai bertumbuh dan menghasilkan buah. Ada banyak jiwa baru di Wonosari ibukota Gunungkidul yang dimenangkan. Anak-anak kecil juga mengikuti acara Sekolah Minggu dengan bergairah. Namun karena suatu sebab, jemaat itu pecah menjadi tiga. Masing-masing digembalakan oleh Pdt. Danny, Pdt. Yamto dan Pdt. Barsilla. Jemaat yang di bawah pimpinan Pdt. Barsila berkembang dengan pesat dan sudah punya gedung gereja yang megah. Sementara itu, Pdt. Danny hanya 'kebagian' 20 jemaat.

Ketika Purnawan dari BAHANA berkunjung ke rumahnya, kami duduk di kursi sofa yang sudah tua. Di samping kiri, ada meja besar dengan pesawat TV 14 inchi yang warnanya sudah pudar di atasnya. Di bagian belakang terdapat dua lemari besar dengan kaca yang besar. Dindingnya terbuat dari tripleks dengan hiasan kalender yang memajang foto Yacob Nahuway. Di sepanjang dinding terlihat tempelan gambar-gambar bunga dan buah-buahan dari kalender bekas. Selain sebagai hiasan, gambar ini sekaligus berfungsi menutupi bagian tripleks yang mulai terkelupas. Lantainya berupa tegel dari batu kapur yang mulai pecah. Di bagian tengah terlihat tiang rumah dari kayu kasar, karena tidak diserut dengan halus. Dari ruang tamu itu, BAHANA bisa melihat atap dari genting yang disangga bambu.

Danny lalu bercerita bahwa ketika muda, dia mendapat bantuan untuk bersekolah Alkitab di Beji, Malang. Di sekolah itu, Danny muda mendapat tugas praktik kerja di luar Jawa. Setelah lulus, dia lalu melayani di Jakarta. Di bawah pimpinan A.H. Mandey, Danny mendapat tanggung jawab untuk mengajar Sekolah Minggu di Jakarta. Kemudian mendapat tugas untuk merintis jemaat di Gunungkidul.

Selama bincang-bincang itu, BAHANA harus bicara dengan suara keras karena fungsi pendengaran pria dari Salatiga ini sudah menurun. Untunglah, kami banyak mendapat bantuan dari Rut, anak bungsu Danny, yang mendampinginya selama wawancara. Gangguan kesehatan itu mendera Danny, semenjak dia mengalami kecelakaan lalu lintas beberapa tahun lalu. Waktu itu, dia memboncengkan temannya dalam rangka ikut seminar di kota Jogja. Dari Wonosari, jaraknya sekitar 40 km dan harus melewati jalan yang berkelok-kelok.

Sepeda motor yang dikendarai Danny berserempetan dengan sebuah mobil. Keduanya terjatuh dan Danny langsung tidak sadarkan diri. Dalam kecelakaan itu, suami Eka Susanto ini (meninggal tahun 1991) harus mengalami pembedahan otak. Setelah operasi itu, Danny mengalami penurunan fungsi kerja otak. Dia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Meski begitu, pria 64 tahun ini masih bersemangat melayani Tuhan. Dia masih mampu memimpin kebaktian dan berkhotbah.

Soal pemenuhan kebutuhan hidupnya, ayah dari empat anak ini mengaku hanya mengandalkan Tuhan. Bagaimana tidak, secara logika jumlah persembahan dari 20 atau 451 jemaat di desa jelas jauh dari kata cukup. Karena itulah, Danny bersyukur karena Tuhan menggerakkan dua Yayasan yang masing-masing memberi bantuan sebesar Rp. 200 ribu. Sekali waktu, Danny juga mendapat kiriman uang dari bekas-bekas murid Sekolah Minggu di Jakarta. Selain itu, juga menerima perpuluhan dari salah satu pemilik toko di kota Wonosari. Dengan kondisi, itu dia bisa hidup sederhana dan menyekolahkan anak-anaknya.

Keseimbangan

Jika kita melihat kehidupan hamba Tuhan kota dan desa, kita melihat betapa besar kesenjangannya dalam taraf hidup maupun gaya hidup mereka. Namun, jika kita melihat isi hati mereka yang paling dalam, mereka memiliki kesamaan paling tidak dalam dua hal. Pertama, mereka ingin melayani Tuhan di ladang pelayanan mereka masing-masing. Kedua, mereka memiliki kerinduan yang dalam untuk memiliki karakter Kristus. Yang utama dan terutama adalah keseimbangan. 'Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan' (II Korintus 8:13-14).

Bagi jemaat, kita tidak perlu memperuncing kesenjangan itu dengan menganggap pelayanan yang satu lebih utama dari pelayanan yang lain. Yang justru perlu kita lakukan adalah memberkati mereka dengan apa pun yang bisa kita lakukan. Doa. Dana. Dorongan.
http://artikel.sabda.org/pendeta_borju_dan_pendeta_burjo

Pelayanan Berbasis Jemaat

Penulis : Gurgur Manurung

Ada isu yang mengatakan bahwa ada pendeta yang takut ke pedesaan. Ada isu yang mengatakan bahwa pendeta berebutan lahan basah. Ada isu bahwa masyarakat Batak itu sekitar 1 juta orang, jadi kalau menyumbang sekitar Rp 2.000.000 saja/orang/tahun itu berarti terkumpul triliunan rupiah. Uang triliunan rupiah kita gunakan membuat pabrik yang menyerap tenaga kerja yang banyak. Dengan demikian pengagguran teratasi.

Dapatkah anda bayangkan jikalau daerah Tapanuli menjadi daerah pabrik pulp, sepatu, karet?. Beberapa tahun yang lalu, saya diusir seorang pejabat Tobasa dari kantornya dengan alasan yang tidak jelas. Dia mengatakan bahwa dimana ada daerah makmur tanpa industri?. Menurut sang pejabat itu bahwa industri itu adalah pabrik seperti PT.TPL. Tentu saya agak geleng-geleng kepala mendengar "kebodohan" sang pejabat. Bos, film juga industri, pariwisata juga industri, perikanan juga bisa industri, mengelola gadong (ubi) juga bisa industri, jawabku setengah mengejek. Maklum, saya sudah sangat kesal dengan emosinya yang main usir saja.

Wajar saja dia marah-,marah padaku, karena saya bertanya perihal kesiapan instansinya untuk mengontrol PT.Toba Pulp Lestari. Saya katakan bahwa kesiapan pemerintah Tobasa sama sekali tidak kapabel untuk mengontrol pabrik yang dibenci masyarakat Porsea itu. Dia mengatakan bahwa Kepala Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) telah memiliki sertifikat AMDAL C. Tentu saya makin tertawa mendengarnya. Saya katakan bahwa sertifikat AMDAL C itu ibarat kurikulum anak SD dan pekerjaan PT.TPL adalah karya para sarjana. Mungkinkah sarjana disidik anak SD?. Pusinglah dia tujuh keliling. Sejak dia pusing, tak pernah lagi saya diusir. Maklum, sebelumnya saya dianggap sebagai sopir angkot yang belajar menjadi wartawan dan ingin cari uang alias nanduk.

Saya tidak mau larut dengan persoalan diatas. Hanya, saya mau katakan mari kita jernih melihat persoalan. Pertanyaanya adalah tepatkah daerah Tapanuli menjadi tempat pabrik?. Pertanyaan berikutnya adalah bagimana cara meningkatkan ekonomi masyarakat yang miskin itu?.

Sebenarnya, potensi masyarakat Tapanuli tidaklah miskin. Hanya, mereka diperbudak sistem ekonomi yang tidak jelas. Coba bayangkan seandainya harga dasar gabah ditetapkan pemerintah, harga tanaman jahe, sayur-sayuran, jagung dan lain sebagainya. Penetapan harga dasar produk petani akan memacu mereka bekerja keras untuk meningkatkan produksi.

Apa hubungannya dengan pendeta?. entahlah, saya bermimipi bahwa pendeta adalah pusat gerakan pembaruan moral, ekonomi, politik, sosial, budaya. Pendek kata, pendeta harus mampu menggerakkan Jemaat secara terintegrasi (holistik). Dengan demikian, sistem berjalan dengan baik.

Aneh, pendeta sibuk protes sistem penggajian, pendeta sibuk membicarakan hubungan sesama pendeta, pendeta sibuk membicarakan temanya pendeta yang kena sanksi. Padahal topik semacam itu sudah usang. Idealnya, ketika pendeta A mensharingkan pergumulannya ke pendeta B maka dengan sendirinya mereka akrab dan ditutup dengan Doa.

Dua bulan lalu, seorang pendeta Gereja Kristen Jawa yang baru menikah meminta saya mempromosikan hasil industri rumah tangga Jemaatnya di Bogor, saya sungguh terharu. Hampir tiga jam beliau menceritakan pergumulanya dengan peningkatan ekonomi Jemaatnya. Tentunya, kami membicarakan secara holistik. Saya setuju dengannya, bahwa pendeta harus ikut memikirkan ekonomi Jemaatnya. Hari makin larut, dari awal hingga akhir kami tidak membicarakan kebutuhan kami. Hanya, si mas nanya " mengapa belum menikah bang Gurgur"?. Saya hanya senyum dan melanjutkan diskusi mulai dari PGI, politik, korupsi, budaya hingga bercanda.

Saya mengira, hal itu terjadi karena saya melihat si Mas itu begitu rindu akan pelayanan. Bisakah anda bayanagkan apa yang kami bicarakan seandainya tidak memiliki kerinduan yang sama?. Apalagi kepentingan yang berbeda?.

Jadi, jikalau banyak pendeta seperti si Mas itu, maka ekonomi berbasis jemaat akan tercapai. Jikalau kita jujur, berepa banyak jemaat kita yang menjadi rentenir?.Adakah kasih antar sesama bagi rentenir?. Tentu hal ini menjadi debat yang manis dan perlu kita bukakan. Bukankah banyak rentenir diberkati Tuhan juga?. Nah, hal ini janganlah kita buat menjadi yang sensitif. Tapi, mari kita akui secara jujur bahwa sungguh banyak permasalahan yang kita hadapi. Tentu yang ideal adalah saling membantu antara satu jemaat dengan jemaat lain sehingga benarlah kita satu Tubuh di dalam Kristus.

Jika kita satu tubuh dalam Kristus maka jemaat memikirkan kebutuhan pendeta, pendeta memikirkan jemaat dan jemaat saling memperhatikan. Dengan demikian suasana Gereja kita bersuka cita. Tidak akan ada perebutan jabatan ini dan itu. Kalau saya sebagai jemaat mengangkat kursi atau meja atau menyapu Gereja maulah aku, karena fisikku kuat. Kalau saya dipilih jadi Ketua pembanugunan Gereja, saya bersedia juga. Pastinya, semua akan transparan.
http://artikel.sabda.org/pelayanan_berbasis_jemaat

Pandangan yang Salah Terhadap Gereja

Ketika Yesus hidup di dunia, Ia melayani dengan tubuh fisiknya. Kemana pun Ia pergi, Ia menyembuhkan, menasehati, menunjukkan belas kasihan, mengajar, dan menjalani kehidupan yang menjadi teladan untuk diteladani orang lain. Ketika Yesus kembali ke surga setelah kebangkitan-Nya, tubuh fisik-Nya lenyap dari dunia, tetapi Ia meninggalkan tubuh lain untuk meneruskan pelayanan-Nya. Tubuh baru Kristus yang masih ada hingga hari ini adalah gereja.

Pandangan yang Salah Terhadap Gereja

Para pria dan wanita modern telah membangun sebuah pandangan yang salah terhadap gereja. Banyak orang yang memandang gereja sebagai organisasi yang tidak berhubungan dengan kesalehan atau hanyalah sekumpulan orang-orang munafik yang percaya pada Tuhan tetapi hanya mengutamakan penambahan jumlah anggota, mengembangkan program- program, berpolitisi dalam masyarakat, membangun gedung-gedung gereja yang besar dimana selama hampir satu minggu penuh dibiarkan kosong tanpa kegiatan apapun. Uraian ini mungkin berlebihan, tetapi sungguh itu mewakili gambaran gereja yang ada hari ini bahkan mungkin masih menjadi pandangan dari beberapa pengunjung gereja yang paling setia sekalipun.

Pandangan Alkitabiah Tentang Gereja

Sudah jelas pandangan di atas jauh dari model gereja yang digambarkan dalam Alkitab. Gereja seharusnya merupakan tubuh dari orang-orang percaya yang telah 8menyerahkan hidup mereka pada Yesus Kristus dan telah diperlengkapi dengan karunia rohani yang mereka sadari dan mereka kembangkan (Efesus 4; 1Petrus 4:10). Karunia- karunia ini, yang diuraikan dalam Roma 12, 1Korintus 12, dan Efesus 4, termasuk juga hal-hal seperti bernubuat, mengajar, menginjili, menolong, menasehati (seperti yang kita tahu, karunia- karunia yang digambarkan ini sangat mirip dengan konseling), bahasa lidah, menyembuhkan, iman, hikmat, pengetahuan, ketajaman pikiran, menunjukkan belas kasihan, melaksanakan dan memberi. Semua karunia ini berasal dari Roh Kudus, yang diberikan sesuai dengan kehendak- Nya (1Korintus 12:11).

Berdasarkan Efesus 4:12,13 pemberian karunia-karunia Roh memiliki dua tujuan. Pertama, mempersiapkan orang-orang percaya secara individu untuk melayani sebagai bagian dari Tubuh Kristus. Yesus datang untuk menyampaikan Kabar Baik, untuk menerangi, membebaskan mereka yang dalam perbudakan, dan memproklamirkan kebenaran (Lukas 4:18). Tubuh Kristus yang modern juga memiliki fungsi yang sama, dan sama seperti Roh Kudus memberi kuasa pada Yesus (Lukas 4:18), demikian juga Ia akan memberi kuasa pada kita dan karunia yang memampukan kita untuk melayani satu sama lain.

Kedua, tujuan dari pemberian karunia Roh adalah untuk membangun Tubuh Kristus supaya kita bisa dipersatukan, berpengetahuan, dan menjadi pria dan wanita yang dewasa. Orang-orang seperti itu tidak terombang-ambingkan oleh gaya atau filsafat hidu8p yang baru. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang stabil, penuh kasih, dan hidupnya berpusatkan pada Kristus (Efesus 4:12-16).

Tubuh Kristus hadir untuk berbagai tujuan, masing-masing anggotanya bisa memiliki pengaruh yang besar terhadap setiap orang. Ketika Tubuh berfungsi secara maksimal, maka akan menghasilkan:

[[Cat.Red.: Keempat poin berikut ini diambil dari buku Dr. Gary Collins, "How To Be A People Helper", namun penjelasan untuk masing-masing poin tidak kami sertakan. Kami hanya mengutip ayat- ayat referensinya saja.]]

* Persekutuan
1Yohanes 1:3,4,7
"Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna." ... "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa."

1Korintus 1:29
"Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia."
* Pelayanan
Matius 20:26
"Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu."

Galatia 6:2
"Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu."

Roma 12:15
"Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!"

Yakobus 5:16
"Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."
3. Kasih
Yohanes 13:35
"Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid- murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."

Matius 22:39
"Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Roma 5:8 "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa."
4. Pertumbuhan
Efesus 4:13-16
"Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap- tiap anggota -- menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih."

Pikirkanlah apa yang dapat dilakukan oleh komunitas Tubuh Kristus bagi orang-orang yang membutuhkan pelayanannya. Komunitas ini dapat: memberikan perasaan dimiliki/memiliki atau persekutuan. menunjukkan kepedulian dan perhatian yang tulus bagi orang yang dilayani, orang yang melayani, dan persahabatan antara orang- orang tersebut. memberikan bantuan praktis dan nyata untuk mereka yang membutuhkan. menyediakan kesempatan bagi orang-orang yang butuh bantuan agar mereka juga dapat menolong orang lain (ini adalah terapi yang baik). menyatakan kasih yang alkitabiah kepada orang-orang yang merasa dirinya tidak dikasihi, namun butuh dikasihi. memberikan filsafat hidup yang berarti. mendukung dan membimbing setiap individu dan keluarga saat mereka menghadapi masa-masa krisis. mendorong mereka untuk melakukan pengakuan dosa dan menyatakan kepercayaannya kepada Kristus yang Mahakuasa. memberi nasehat dan dukungan kepada konselor ketika dia berada dalam situasi konseling yang menyulitkan. membimbing setiap individu menuju ke arah kedewasaan dalam menjalin persahabatan dengan Kristus yang Mahatinggi. memberi dukungan bagi orang yang dilayani saat ia sedang bertumbuh dalam sikap hidup yang benar. menunjukkan berbagai model kedewasaan dan kestabilan psikologi- rohani. menerima orang-orang yang mengalami penderitaan, termasuk bekas pecandu alkohol, narapidana, pasien sakit jiwa, dan mereka yang merasa tidak diterima di dalam komunitas sebagai seorang pribadi yang utuh.

NUBUATAN AKAL-AKALAN

Oleh: Herlianto

Artikel berjudul Tragedi Teologi Sukses mendapat tanggapan, baik yang mendukung maupun yang menyanggah, dan dari tanggapan itu ada beberapa yang berseberangan yang berasal dari lingkaran dekat penginjil tersebut.

Seorang tokoh di kota Semarang yang dekat dengan penginjil itu (penginjil itu berasal dari Semarang) mengungkapkan bahwa memang penginjil itu dikenal sebagai sering membawakan nubuatan-nubuatan aneh yang berpusat pada diri dan keluarganya sendiri tapi banyak yang tertarik dan isteri penginjil itu pernah bersaksi ada banyak yang memberikan persembahan bahkan sampai 1M. Seorang pendeta yang banyak tahu praktek penginjil itu menyebutkan bahwa memang penginjil itu sering melakukan Prophetic Trickery (bisa diartikan Nubuatan Akal-Akalan ) dan pendeta itu memandang musibah sekitar penginjil itu sebagai peringatan Tuhan!

Seorang teman dekat penginjil itu menyebutkan bahwa penginjil itu bersaksi bahwa peristiwa itu mujizat Tuhan karena ia sekarang sehat walafiat dan bahkan bangga karena kerugian mobil Mercedesnya yang hancur sudah dibayar asuransi dengan mobil seri E tipe terbaru. Dan ketika ditanya bagaimana dengan menantunya yang meninggal, dengan enteng ia menjawab bahwa telah dinubuatkan bahwa menantu itu dipanggil Tuhan karena kalau masih hidup ia akan menghadapi masalah besar yang tidak tertanggung hidupnya. Menarik untuk menyimak perilaku penginjil itu bahwa untuk menghibur kedua anak almarhumah yang meninggal katanya mereka sudah berhubungan dengan ibunya (spiritisme?) dan mendapat nubuatan hiburan bahwa si ibu sekarang sudah senang tinggal di rumah besar di surga! Seorang penginjil wanita yang dekat dengan pelayanan penginjil itu menyebutkan bahwa anak sipenginjil (yang juga jadi penginjil) yang terlibat penggelapan dana tentara, memperoleh sukses bisa membangun rumah mewah dan mendapat proyek besar karena ada deal dengan Tuhan.

Kalau diamati, nubuatan akal-akalan semacam ini sudah menjadi bisnis penginjil yang tidak beda dengan praktek bisnis ramalan perdukunan yang menyenangkan telinga. Bila orang pergi kedukun atau ke gunung Kawi biasa yang diminta adalah sukses kekayaan dan jabatan atau lainnya, tetapi biasanya ada tumbal (sebagai deal) yang dikorbankan. Ada pabrik rokok yang maju berkat ramalan gunung Kawi tetapi keluarganya berantakan bahkan ada anaknya yang mengalami kecelakaan mobil terguling, beberapa pemilik kebon apel di kota Batu sukses tetapi mengorbankan anak yang menjadi gila atau mati. Yang jelas dalam kasus penginjil di atas, sehatnya sipenginjil dan kembalinya mobil mewah yang malah lebih baru tipenya, bahkan anaknya yang beroleh sukses bisa membangun rumah mewah dan mendapat proyek besar itu dianggap sebagai mujizat berkat Tuhan, tetapi dengan enteng menganggap kematian menantu sebagai sudah dinubuatkan, kematian yang akan menimbulkan trauma kepada ibunya yang mengandungnya dan kedua anak almarhumah yang masih remaja. Jelas pula kesaksian bahwa tuhan bisa dengan mudah diajak dialog dan didengar suaranya itu adalah tuhan yang sama sekali membutakan hati dan tidak menyadarkan orang akan jerat dan bahaya ber-KKN dengan tentara! Dan deal apaan dengan tuhan apaan yang mengorbankan nyawa isteri?

Nubuatan akal-akalan yang berkaitan dengan kematian bisa kita lihat dari praktek Oral Roberts yang ketika membangun City of Faith nya yang kekurangan dana 8 juta dolar kemudian menubuatkan bahwa kalau tidak terpenuhi ia akan dipanggil Tuhan (alias mati). Dana tidak juga terkumpul dan akhirnya ada pengusaha non-kristen yang kasihan dan menyumbang untuk pembangunan itu. Nubuatan bukan saja akal-akalan tetapi sudah menjadi bisnis untuk mencapai tujuan sukses seperti dalam perdukunan, dan ini dikejar tanpa sadar bahwa tujuan itu sering mengorbankan kehidupan kekeluargaan. (Bandingkan sukses Jim Bakker yang akhirnya mengorbankan keluarga (isteri minta cerai), harta kekayaannya, dan masuk penjara).

Benny Hinn adalah penginjil yang terkenal dengan prophetic trickerynya. Pada tahun 1989 ia menubuatkan Fidel Castro akan meninggal pada tahun 1990-an, pada tahun yang sama ia menubuatkan bahwa pada tahun 1995 komunitas Homo di Amerika akan dihancurkan Tuhan, ia juga menubuatkan tahun 1990-an gempa bumi besar akan menimpa pantai timur Amerika. Hinn termasuk penginjil yang menubuatkan bahwa pengangkatan jemaat akan terjadi tahun 1992, dan ketika nubuatan itu tidak jadi diramalkan pada tahun 1997 bahwa dalam waktu dua tahun Tuhan Yesus akan datang kembali dan pada tahun 2000 akan muncul secara fisik dibanyak gereja. Petinju Evander Holyfield pernah disembuhkan secara mujizat oleh Hinn dari penyakit jantung sehingga petinju itu menyumbang 25.000 dolar kekocek Hinn, namun kemudian ketahuan dari diagnosa dokter yang biasa memeriksa kesehatan para petinju dikemukakan fakta bahwa Holyfield tidak mempunyai track record penyakit jantung (penyakit jantung adalah penyakit yang terbentuk dalam waktu lama dan bukan karena penularan seketika). Hinn juga mengajarkan ajaran bahwa manusia adalah little gods !

Yang menarik untuk dilihat adalah bahwa sekalipun para penginjil di atas mengajarkan tuhan, tuhan perdukunan yang menjanjikan penonjolan diri dan berkat materi, jelas berbeda dengan Tuhan Alkitab yang mengajarkan kita untuk bertobat dan menjadi berkat bagi sesama kita, dan sekalipun nubuatan akal-akalan yang disampaikan tidak beda dengan ramalan perdukunan yang menyenangkan telinga dan hati pendengar dan para pendengarnya sering tertipu, selalu akan ada jemaat yang berkumpul sekitar para penginjil itu dan mendengarkan bualan mereka. Rasul Paulus mengingatkan bahwa:

Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. (2 Timotius 4:3-4)

Nabi Yeremia banyak berhadapan dengan para nabi palsu yang sering melakukan nubuatan akal-akalan di zamannya dan berkali-kali mengingatkan umat:

Janganlah dengarkan perkataan para nabi yang bernubuat kepada kamu! Mereka hanya memberi harapan yang sia-sia kepada kamu, dan hanya mengungkapkan penglihatan rekaan hatinya sendiri bukan apa yang datang dari mulut TUHAN. ... Aku akan menjadi lawan mereka yang menubuatkan mimpi-mimpi dusta, demikianlah firman TUHAN, dan yang menceritakannya dan menyesatkan umat-Ku dengan dustanya dan dengan bualnya (Yeremia 23:16,32).

Memang tidak mungkin mengingatkan penginjil yang sudah sudah menjadi tokoh kultus dan terkenal dan didukung massa yang banyak, kecuali hanya didoakan dan berharap Roh Kudus sendiri yang menyadarkan mereka agar mereka tidak menyesatkan lebih banyak orang lagi. Tetapi, setidaknya kita masih bisa mengingatkan para jemaat yang terpengaruh praktek nubuatan akal-akalan itu agar mereka tidak terkecoh lebih lanjut dan kembali kepada ajaran firman Tuhan Alkitab. Bila kita diam, kita ikut bersalah menjerumuskan lebih banyak orang ke dalam kesesatan demikian. Rasul Paulus melanjutkan nasehatnya:

Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! (2 Timotius 4:5).

Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesadaran dan pengajaran. (2 Timotius 4:2) http://artikel.sabda.org/nubuatan_akal_akalan

Minggu, 23 November 2008

Pelayanan Pendeta


Oleh: Herlianto

Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu . (LAI, 1 Petrus, 5:2-3).

Dalam retret yang digelar Komisi Dewasa sebuah gereja dikawasan Jakarta Pusat sekitar tanggal 17 Agustusan di Pacet, sebagai keynote speakers diundang dua pembicara (masing-masing 5 sesi), yaitu seorang pendeta dari gereja di kawasan Kelapa Gading dan seorang penceramah awam.

Menarik ngobrol-ngobrol dengan pendeta itu, sebab ditengah alam segar Pacet, pembicaraan mengungkapkan keadaan yang tidak segar yang terjadi di Kawasan Kelapa Gading yang terkenal dengan mal panjang dengan food-courtnya yang luas yang selalu ramai dikunjungi orang itu. Pendeta itu mengungkapkan bahwa di kawasan Kelapa Gading ada 80 gereja yang beroperasi. Lebih lanjut diungkapkan bahwa berbagai usaha dilakukan untuk menyatukan gereja-gereja itu agar menjadi kesaksian bagi penduduk kawasan itu, baik melalui usaha PGIW, JDN (yang markasnya ada di kawasan itu), maupun lainnya. Namun sejauh ini usaha kearah keesaan gereja di kawasan itu tidaklah mudah dijalankan.

Kesan demikian juga mewarnai usaha keesaan yang dilakukan PGI ditingkat nasional. Menurut salah satu pimpinan PGI, usaha keesaan gereja di Indonesia yang dikenal sebagai gerakan Ekumene memang sudah dilakukan lama, namun sejauh ini usaha itu masih bagaikan berjalan ditempat dan tidak menunjukkan kemajuan yang berarti.

Ternyata menyatukan gereja-gereja yang diwakili pendeta-pendetanya tidaklah mudah dilakukan, bahkan pendeta-pendeta yang biasa aktif dalam forum-forum pluralisme antar umat beragama yang ideal itupun tidak bisa mewujudkannya dilingkungan agamanya sendiri.

Mengapa gereja-gereja yang diwakili pendeta-pendetanya sukar untuk diajak duduk bersama semeja demi keesaan gereja? Kelihatannya ucapan rasul Petrus diatas belum banyak dihayati (apalagi dilaksanakan) oleh pendeta-pendeta sehingga usaha keesaan itu maju tak mau, mundur tak mau.

Anjuran rasul Petrus diatas menarik untuk direnungkan kembali, soalnya sejak awal sejarah gereja sudah terungkap bahwa segera setelah kematiannya, orang berebut menuntut posisi Petrus yang dianggap sebagai primat gereja, sehingga terbentuklah ke paus an, ke uskup an, ke penatua an, dan ke pendeta an, padahal sekalipun Tuhan Yesus menyebut pengakuan iman Petrus bahwa Yesus Messias, Anak Allah yang hidup sebagai batu karang yang menjadi fundasi gereja, ia sendiri tidak menganggap itu sebagai hak pribadinya mengatasi yang lain. Sekalipun semula Petrus berwatak temperamental dan impulsif, dan suka menonjolkan diri, pergumulan imannya dengan Tuhan Yesus telah mengubah hidupnya menjadi baru sehingga bisa menasehati rekan kerjanya dengan ucapannya diatas, dan malah sebelumnya ia mengatakan bahwa ia cuma sesama teman pelayanan sebagai penatua:

Aku menasehatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus... (LAI, 1 Petrus 5:1).

Banyak orang menjadi pendeta tanpa perubahan hati dan pikiran sehingga kependetaan bukan dianggap sebagai pelayanan tetapi sebagai jabatan yang memungkinkan baginya untuk memaksa jemaat. Petrus menasehati agar melakukannya dengan sukarela sesuai kehendak Allah. Rupanya, pada masa hidup Petrus sudah ada yang bukan bermotivasi untuk melayani tetapi untuk memperoleh keuntungan atau menjadikan pelayanan sebagai sekedar profesi, dalam hal ini ia kembali menekankan agar mengabdikan diri. Rasul Petrus juga mensinyalir bahwa ada teman penatua yang menjadikan mandat yang mereka terima bukan untuk melayani tetapi untuk memerintah mereka yang dipercakan kepadanya yaitu kawanan domba, dan Petrus mengingatkan mereka agar menjadi teladan yang baik.

Ucapan rasul Petrus itu tetap bergema hingga saat ini, dan kelihatannya sudah makin kurang dihayati oleh para pendeta pada masakini sehingga usaha ke arah keesaan juga makin merupakan impian disiang hari. Pelayanan sudah sering dibelokkan menjadi kehendak diri dan bukan kehendak Allah, pelayanan dilakukan dengan memaksakan kehendak diri kepada jemaatnya padahal seharusnya dilakukan dengan sukarela. Belum lagi pelayanan sudah sering dijadikan sumber mencari uang yang menguntungkan padahal seharusnya sebagai pengabdian diri. Organisasi gereja dan jabatannya juga sering oleh pendeta-pendeta tertentu menjadi alat kekuasaan untuk memerintah jemaatnya padahal seharusnya menjadi teladan bagi jemaatnya. Rasul Yohanes pun mengungkapkan dalam suratnya mengingatkan para pelayan Tuhan bahwa:

Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. (LAI, 1 Yohanes 3:16). Kita patut mengucapkan syukur bahwa masih banyak pendeta yang mengikuti nasehat rasul Petrus di atas, yang masih berjiwa gembala, yang melayani dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, yang mengadikan diri dengan tulus, dan yang menjadi teladan bagi jemaatnya.

Marilah kita mengingatkan dan mendoakan para pendeta yang belum menghayati nasehat rasul Petrus itu agar mereka menghayati benar arti pelayanan yang mereka emban. Adanya pendeta-pendeta yang mendengarkan nasehat rasul Petrus akan sangat mendorong kearah keesaan yang didambakan Tuhan Yesus (Yohanes 17), bukan kesatuan organisasi tetapi kesatuan kasih dengan Tuhan Yesus dan sesama manusia.